Tanat Evav Om Ron Wahaid

Tanah key Jangan Menangis

Eky Talaut: Pembuat Alat Musik Bambu Leis Wan Wan, Ekal & Dehir

Eky Talaut: Peraih Danamon Award 2010 sebagai “Pemusik Pencipta”

Pemilik Semangat BISALelaki itu menunjukkan telapak tangannya yang masih menggariskan sisa luka nyaris tanpa ekspresi. Ia bertahun lampau bercengkerama dengan bilah-bilah bambu yang tajam mengiris. Toh, tak ada kamus kata “kapok” dalam dirinya.

Eky Talaut, lelaki itu meretas angannya membuat bilah-bilah bambu menjadi alat yang mampu mengeluarkan nada harmonisasi indah. Dan, ia pun berkisah liku-liku perjalanan hidupnya.

Putra Zakarias Talaut dan Martenci Talaut-Tarantain ini Lahir di Ohoira, 25 April 1955. Pemilik nama lengkap Jeheskel Talaut itu tumbuh di Pulau Tanimbar, Kei, Maluku Tenggara karena mengikuti ayahnya. Eky kecil, pun kemudian pindah ke Desa Taar, Kota Tual, Provinsi Maluku tanah asal nenek moyangnya sembari menamatkan SD.

“Di Tanimbar bila sudah malam, kami bersaudara berkumpul bernyanyi dan bermain gitar hingga malam. Hanya itu hiburan ketika itu di pulau terpencil,” kata dia.Kehidupan keras pun dilakoninya, mencabuti rumput liar di kebun ketela menjadi kesehariannya selain berjualan tomat dan cabai.

Satu hal yang terus dilakukannya entah di rumah, di kebun, di pantai atau di pasar adalah bernyanyi. “Saya selalu bernyanyi dalam keadaan sedih maupun senang,” kata Eky Talaut, mengenang. Matanya menerawang kehidupan kanak-kanaknya yang serba sulit. Air nampak mengambang di matanya. “Hidup yang sangat-sangat susah,” ujarnya. Suaranya bergetar menahan perasaanya.

Setamat SMP, ia pun hijrah ke Ambon. Ketiadaan biaya membuat ia harus merantau untuk menghidupi dirinya. Petualangan di Ambon pun dijalaninya dengan keras. Hingga, nasib membawanya sampai bekerja di kapal pencari ikan. “Waktu itu jabatannya Pembantu Stirman Satu,” katanya, sambil merasa bingung kalau kedudukannya itu sekarang di dunia maritim disebut apa.

Buatnya tak penting posisi. Baginya adalah ada pendapatan yang bisa membuatnya memiliki gaji untuk mengganjal perutnya setiap hari. Ia mengingat, kesenangan pada dunia musik yang ditularkan ayahnya tak sirna. “Ayah saya bahkan membuat biolanya sendiri,” katanya. Bernyanyi dan bermain gitar menjadi kesehariannya yang lain.

Jalan kehidupan sebagai seniman otodidak tanpa disadarinya telah membawa garis hidupnya. Seiring saat kapalnya berlabuh untuk perbaikan di sebuah dok, di Tegal, jawa Tengah sekitar 1976. Sambil menunggu kapalnya diperbaiki, di radio ia mendengar pengumuman kontes Pop Singer di Kota Bahari itu.

Modal nekat, ia mendaftar. Karakter suara yang bagus, menghasilkan ia sebagai juara kedua di festival nyanyi menyanyi itu. “Seingat saya juara pertamanya, Gito Rollies yang masih sama saya dari daerah,” kata Eky.

Capaian malam itu, mengganggu pikirannya. Tanpa berpikir panjang, ia meninggalkan kapal dan kru di Tegal untuk menuju Jakarta. Peruntungan di ibukota akan dijajakinya. Eky muda melihat bayang-bayang dirinya sebagai penyanyi terkenal seakan sudah di pelupuk mata sepanjang perjalanannya Tegal-Jakarta..

Permainan nasib. Semua tak semudah membalik telapak tangan. Petualangannya di Jakarta menembus studio rekaman tak juga mujur dilakoninya. Bahkan, meminta Bob Tutupoly -penyanyi asal Maluku yang tenar saat itu dengan lagu “Widuri”- untuk menjadi mentornya tak membawa sambutan baik.

Putus asa? Tentu saja tidak dilakukan putra Desa Taar, Kota Tual ini. Ia terus mencari celah mengharap peruntungan lebih baik. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak. Jakarta bukan tempat yang hangat menyambut kesungguhan hatinya, untuk menjadi penyanyi dan mengikis asumsi bahwa orang Kei hanya bisa “berkelai” saja.

Surabaya menjadi kota tujuan selanjutnya. Di Kota Pahlawan ini, keberuntungan memihaknya. Sebuah studio musik menawarkannya rekaman. Take vocal dilakukannya di Surabaya, sementara musik diisi di Ambon.

Sebanyak 12 lagu daerah pun diciptakannya sendiri. Hingga, di akhir 1970-an, terkenallah ia di Maluku dan sekitarnya dengan single terkenalnya “Did”. “Lagu itu tentang kerinduan kepada ibu. Setelah kita berhasil untuk mengucapkan terima kasih kepada ibu tapi dia sudah meninggal,” ujar Eky.

Maka, kalau sekarang disebut road show, itu dilakukan pula Eky Talaut di Maluku dan Kepulauan Kei. Popularitasnya mulai menanjak. Hingga di Tual, ia bertemu Adonia Rahantoknam, pegawai di Dinas Penidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tual, Maluku Tenggara.

“Saya jatuh hati. Kemudian menikahinya dan tinggal di Kota Tual ini dengan berbagai problema kehidupan dan meninggalkan popularitas yang pernah saya genggam,” katanya. Segaris senyum muncul di wajah kerasnya. Nampaknya sebuah keputusan yang tak disesalinya. Hingga buah pernikahan mereka lahir, Dita Talaut, Presley Talaut, dan Florense (Neti) Talaut.

Sebuah tikungan tajam dalam hidupnya dipilihnya. Sosok yang mulai menikmati ketenaran ini memilih kembali ke kampung halamannya. Hidup sangat sederhana. “Rumah ini saya bangun dengan tangan saya sendiri. Benar-benar dari keringat dan tangan ini,” kata Eky, sembari mengepalkan tangannya. Rumah di Jalan Gajah Mada, Kota Tual, itu begitu membekas dan menorehkan catatan emas perjalanan hidupnya.

Penghasilannya ditopang dari gajinya golongan I di Depdikbud. “Golongan pesuruh,” katanya, sembari tertawa lepas. Ia duduk di bagian penciptaan lagu daerah. Dan, hingga kini 100 lagu daerah telah diciptakannya mulai dari lagu-lagu untuk pelajaran muatan lokal dari TK hingga SMA, bahkan disetiap kegiatan kesenian ia pun menciptakan lagu mulai lomba-lomba pop singer, paduan suara gereja, bahkan MTQ di Tual.

Lagu-lagu yang diciptakannya sangat membumi dari kehidupan sehari-hari, mulai mengenalkan arah mata angin kepada anak-anak hingga kejadian sehari-hari yang ditemuinya di sekitarnya. Misalkan, pada 1985, ketika sebuah perahu membawa orang-orang menyeberang pulau untuk beribadah karam -hanya tiga orang yang diselamatkan lumba-lumba–, ia pun pada 1986 menciptakan lagu “Masasuhun Ohoi Somlaen” atau “Desa Somlaen Bergelimang Air Mata”.

Satu hari pada 2002, kisah penciptaan ini bermula. Suara gesekan bambu tertiup angin yang selalu didengar, mengusik Eky Talaut. Gagasan pun muncul seiring keprihatinannya terhadap ketidakberadaan seni musik tradisional, khususnya di daerah asalnya: Desa Taar, Kota Tual, Provinsi Maluku.

“Suara bambu itu terdengar indah. Bahkan daun-daunnyapun yang saling bergesekan terdengar merdu,” kata Eky. Tak ada yang menyangka bahwa pria berpembawaan keras ini, memiliki kelembutan dalam hatinya.

Ia mulai meretas ide itu. Kemudian mulailah perjalanan “spiritualnya” menciptakan alat-alat musik dari bambu. Bilah-bilah bambu itu dicarinya, kemudian diusahakannya memiliki nada-nada sesuai birama dalam standar musik internasional. Proses itu bukan perkara mudah, tidak saja upayanya menaklukkan bambu-bambu itu hingga menghasilkan nada-nada yang sesuai, bahkan telapak tangan pun kerap terluka saat bilah-bilah bambu itu patah atau lepas dari ikatan.

Upaya membuat bambu yang tak dilirik orang ini, menjadi alat musik tradisional sangat mengobsesinya. “Saya bisa duduk di bawah pohon nangka depan halaman rumah berjam-jam untuk membuat bambu-bambu ini bersuara,” katanya, bercerita.

Semua, sebatang bambu ia beri lubang dan buatkan senar dari kulit bambu. Tak mudah menemukan nada yang diinginkannya. Berkali-kali dicobanya. Kalau tidak bambunya patah, senarnya tak bersuara, atau nadanya tak sesuai dengan standar internasional.

Singkat cerita, jerih upaya tak kenal putus asa itu berbuah hasil. Sebilah bambu “ngunit” itu pun akhirnya bersuara dengan cara dipetik. Namun, nada itu tak lengkap. Supaya lengkap ia pun membuat dua lubang dan senar lainnya di sisi lain.

“Saya bawa alat musik itu ke kantor. Tak ada satupun yang memperhatikan, apalagi memberikan apresiasi,” kata Eky. ” Tapi saya cuek saja. Setiap ada waktu saya mainkan,” kata dia.

Dalam olah pikirnya, alat musik itu tidak efisien. Karena cara memainkannya jadi agak rumit, karena satu tangan memetik dan satu jemari lainnya membolak-balik bilah bambu itu kesana-kemari. Akhirnya, ia menyempurnakan dengan membaginya menjadi delapan bilah bambu, masing-masing satu nada.

Ia membagi masing-masing empat bilah bambu. Alat pertama hasil karya ciptanya itu dinamakannya Leiswanwan, itu berkaitan dengan kapal (perahu) adat di Desa Taar.

Semangatnya tak kendur. Ia terus mengembangkan alat musik bambu temuannya itu, tanpa bantuan siapapun. Hingga akhir 2006, dua alat musik lainnya diciptakan Eky Talaut. Semuanya dari bambu, yaitu Ekal (dari singakatan namanya) berupa alat musik gesek dengan empat senar dari kulit bambu.

“Membuatnya berbunyi pun bukan hal mudah. Saya terus mencoba dengan berbagai alat untuk penggeseknya mulai bambu hingga ijuk tapi tidak berbunyi juga. Akhirnya, bisa bunyi dengan tapi yang saya jalin sendiri,” katanya.

Filosofi adat sangat kuat dalam diri Eky dalam mencipta, sehingga berbagai ornamen pun disesuaikan dengan nilai-nilai adat istiadat yang dijunjungnya. Misalkan dari dua Ekal ciptaannya, satu dengan kepala perahu adat dan satu lagi berkepala ornamen emas Desa Taar.

Dibuat pula Dehir (nama gerbang Desa Taar), alat musik ini terdiri dari delapan batang bambu yang mampu menyuarakan nada “do-re-mi” dan seterusnya dengan cara memainkannya melalui dipukul. Lengkaplah sudah tiga alat musik bambu ciptaannya.

Eky Talaut yang tahun ini telah pensiun sebagai pegawai Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tual (terakhir golongan III) ini, menunjukkan betapa semangatnya yang tak putus itu berhasil membuahkan hasil. Ketiga alat musiknya itu dipadukan dengan tetabuhan tifa-tifa.

Tanpa putus asa menghadapi segala tantangan, pemusik otodidak ini kemudian mendirikan Sanggar Seni Budaya Ekal Desa Taar, Tual. Anggotanya memang berasal dari Desa Taar dari berbagai profesi mulai guru, petani-nelayan, pegawai negeri, arsitek, hingga “jagoan” setempat.

Kemampuannya menyelaraskan bambu menjadi musik yang khas dan unik itu, diterapkannya dalam merangkul bermacam karakter di sanggar yang didirikan pada 2007 ini. Sebut saja Merianus Jalnuhubun (Merci) guru SD yang di sanggar sebagai wakil ketua, Daniel Tarantein (Doni) pegawai negeri sebagai Ketua seksi Seni Budaya, Efram Songjanan (Wely) arsitek bangunan lulusan Universitas Atmajaya Yogyakarta, Iwan Tarantein S.H. Ketua Seksi Hubungan Antarlembaga, Andre Narwadanjanan “jagoan” Desa Taar, Zakarias Karmomjanan mantan atlet lari yang tak mendapat perhatian dan pembinaan selayaknya, serta Berce Teljoarubun petani-nelayan.

Khusus mengenai Berce ini. Sebelumnya, di Desa Taar ia dikenal sebagai orang yang tak pernah bergaul, hidupnya hanya di hutan dan laut. Bahkan berhari-hari ia baru ke desa. Sosoknya sangat kaku. Namun, perlahan-lahan Eky Talaut berhasil membujuknya untuk bergabung dengan Sanggar Ekal. “Dia sekarang bisa bergaul dan perlahan-lahan kepercayaan dirinya tumbuh. Saya ingin menerapkan batu akhirnya bisa tembus oleh seni,” kata Eky.

Ia pun memelopori anggota sanggarnya untuk membuat tambak-tambak sebagai mata pencaharian sekaligus menjaga pohon-pohon mangrove di sebuah teluk dekat Desa Taar.

Dan, atraksi musik bambu hasil inovasi Eky Talaut itu berhasil mencuri perhatian di Pameran dan Kesenian Nasional di Nusa Dua Bali pada 2007, bahkan pada Pesta Seni Maluku II (2009) menjadi juara pertama. Pada ajang Sail Banda 2010 lalu pun, Eky Talaut dan sanggarnya unjuk kebolehan dan menarik perhatian para peserta dari mancanegara.

Ide itu makin menemukan bentuknya, namun Eky Talaut tetap bersahaja, “Saya hanya sebagai alat Tuhan menciptakan musik bambu ini. Saya berharap suatu saat Leiswanwan, Ekal, dan Dehir menjadi kebanggaan masyarakat Maluku Tenggara, dan Indonesia pada umumnya”.

Saat diwartakan kepada dirinya, bahwa ia masuk 10 Finalis Danamon Award 2010. “Semua berkat Tuhan. Jika sebelumnya tidak ada manusia yang melirik, maka Tuhan menunjukkan kuasanya saat ini,” kata pria religius ini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.